Desa Serungkuk, Kecamatan Belalau [Lampung Barat] dan Fakta Yang Harus Kamu Baca!

Desa Serungkuk, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat, Lampung


FaktaDaerah.Com- Serungkuk, saya mengenal desa ini saat saya ditempatkan sebagai salah satu mahasiswa yang tergabung dalam pengabdian mahasiswa berupa Kuliah Kerja Nyata Universitas Lampung tahun 2017 periode 2. Serungkuk adalah nama sebuah desa di Kecamatan Belalau, Lampung Barat. Sekitar 35 menit dari kota Liwa. Bagi masyarakat setempat, selain nama desa Serungkuk adalah sebutan bagi buah yang berbentuk mirip luba-lubi namun memiliki rasa seperti buah manggis ketika sudah masak. Buah ini disebut Gowok bagi  masyarakat Jawa. Konon Serungkuk berarti pula sebagai salah satu dari nama gua di daerah Danau Ranau.

Desa Serungkuk, Kecamatan Belalau Sarat akan Budaya Lampung


Desa Serungkuk sarat akan budaya Lampung, salah satunya adalah Nattak Teba jama Tambak yang bisa di artikan sebagai kegiatan membersihkan daerah-daerah yang di anggap sakral. Kegiatan ini merupakan tradisi turun temurun dan biasanya diadakan sebelum lebaran. Kegiatan ini dilakukan oleh bujang gadis (karang taruna) Desa Serungkuk. Akan tetapi 3 tahun belakangan ini tradisi ini tidak dilakukan karena jumlah karang taruna sedikit, hal ini dikarenakan keinginan pemuda dan pemudi daerah setempat untuk bekerja dan sekolah di luar daerah. Atas inisiatif perangkat desa melalui kerjasama dengan karang taruna serta mahasiswa KKN kembali dilaksanakanlah tradisi ini.
 

Kegiatan Nattak Teba Jama Tambak di Desa Serungkuk


Pada pelaksanaannya Nattak Teba jama Tambak di bagi menjadi beberapa kegiatan yaitu membersihkan tiga daerah yang di anggap sakral yaitu keramat, rumah batin, dan batu tahalui. Lalu kemudian di lanjutkan dengan meminta sumbangan seikhlasnya kepada masyarakat Desa Serungkuk baik yang masih menetap di serungkuk maupun yang sudah pindah ke desa lain. Dana yang terkumpul digunakan untuk kegiatan marok atau mengobrol (acara bujang gadis).
 
Kegiatan bersih-bersih diawali dengan pembersihan Keramat. Di keramat terdapat sebuah gubuk kecil berupa makam beberapa leluhur Serungkuk dengan halaman yang sudah banyak ditumbuhi tanaman liar. Rumput-rumput liar dibersihkan dan kayu-kayu yang sudah mati di singkirkan. Ada yang unik pada kegiatan ini, pada saat membersihkan tidak diperbolehkan menggunakan sapu lidi melainkan harus dipungut. Setelah itu kegiatan bersih-bersih dilanjutkan ke Batu Tahalui.

Pada lokasi kedua ini bersih-bersih dilakukan dengan menyingkirkan daun-daun bambu kering yang terdapat di sekitar batu. Baru Tahalui merupakan batu yang berbentuk gepeng dengan dua lubang diatasnya. Tahalui sendiri merupakan istilah dalam bahasa lampung yang berarti telur. Alkisah, dahulu kala ada seorang gadis di Desa Serungkuk yang mandi di sungai. Selama si gadis mandi ada seekor kerbau yang menonton sembari menduduki sebuah batu. Lama kelamaan terbentuk cetakan buah zakar (telur) si kerbau jantan pada batu. Batu yang diduduki si kerbau inilah yang kemudian disebut dengan Batu Tahalui.

Kegiatan bersih-bersih dilanjutkan pada lokasi ke tiga yaitu lamban batin.  Lamban berarti rumah dan batin berarti orang yang dihormati dalam masyarkat lampung. Lamban batin merupakan. Lamban batin tidak berpenghuni. Lamban batin sendiri tampak seperti rumah panggung kayu khas suku lampung. Di halaman lamban batin terdapat sebuah batu yang berdiri tegak mirip seperti prasasti kuno yang di kelilingi tembok semen di bagian bawah kiri rumah. Menurut cerita dari masyarakat setempat, batu ini merupakan perwujudan dari seorang wanita yang dikutuk menjadi batu. Terdapat beberapa versi mengenai asal usul batu ini. Alkisah, pada zaman dahulu ada seorang wanita yang akan menikah dengan buyut (nenek moyang) Desa Serungkuk. Akan tetapi saat sampai di Desa Serungkuk si wanita tidak mau menikah dan akhirnya di kutuk. Versi kedua dari cerita ini adalah pada masa lampau ada seorang wanita yang di sapa oleh pemuda serungkuk akan tetapi tidak menjawab sapaan tersebut dan akhirnya dikutuk. Dari pemaparan masyarakat, batu ini dinamakan baru Sepaddu. Pada permukaan batu ini terdapat bercak-bercak putih yang berbentuk bulat. Masyarakat percaya jika batu ini di pegang maka orang tersebut akan beruban  dan akan blewahan (panuan). Masyarakat pribumi Desa serungkuk, diyakini memiliki uban atau panu. Jika ada masyarakat yang tidak memiliki uban ataupun panu akan merasa malu, dan karena itu masyarakat setempat di sarankan untuk memegang batu agar mendapatkan uban maupun panu.

Di dalam lamban (Rumah) terdapat kursi, meja, perabotan makan, satu ranjang tempat tidur dan 2 balok kayu besar, rumah itu hanya terdapat 2 ruangan yaitu ruang tamu dan kamar tidur. Masyarakat meyakini jika kita memiliki keinginan yang ingin di capai kita bisa berdoa di rumah ini dan doa tersebut akan terwujud menurut cerita dari masyarakat sudah banyak orang dari Serungkuk dan luar Daerah Serungkuk membuktikannya. Rumah ini sengaja di bangun tengah-tengah kebun karena terdapat cerita bahwa Desa serungkuk berawal pada suatu kejadian masa lampau. Alkisah nenek moyang Desa Serungkuk berenang di Gua Serungkuk yang terletak di Danau Ranau. Orang tersebut tenggelam dan muncul di tanah lokasi tempat di bangun nya lamban batin. Jadi, lamban batin ini merupakan simbol dari awal keberadaan orang serungkuk.

Tradisi Marok di Desa Serungkuk


Acara Nattak Tambak Jama Teba berakhir. Acara di lanjutkan ke Tradisi Marok. Tradisi Marok diawali dengan meminta sumbangan seikhlasnya ke warga keturunan Serungkuk baik yang masih tinggal di desa Serungkuk maupun yang tinggal di desa lain (Desa Kenali dan Luas). Kegiatan ini wajib dilakukan untuk mengumpulkan dana bagi puncak acara marok keesokan harinya. Sumbangan biasanya berupa beras dan uang tunai, Beras dan dana yang terkumpul dibarter dengan bahan pokok yang akan digunakan untuk marok berupa kacang hijau, beras merah, kelapa atau santan, dan gula merah.

Acara marok merupakan acara yang dilakukan oleh bujang gadis sebagai sarana untuk mengobrol dan saling berkenalan. Acara ini dihadiri oleh pemuda dari seluruh Kecamatan Belalau. Pada zaman dahulu acara ini digunakan sebagai ajang untuk mencari jodoh. Hal ini dikarenakan pada acara ini para gadis duduk berjajar dan bagi laki-laki diperkenankan untuk berkenalan dan mengobrol para gadis harus menanggapi tiap obrolan dari para bujang, obrolan ini biasanya berupa obrolan tatap muka secara langsung atau melalui surat sembari memakan bubur yang telah disiapkan. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari dan baru akan selesai jika sudah tidak ada lagi pria yang ingin mengajak mengobrol.

Dari berbagai acara yang saya jalani selaku mahasiswa KKN. Sangat banyak pengalaman yang didapat, terutama masalah kehidupan masyarakat di Serungkuk. Salah satunya adalah kebiasaan serta adat  istiadat yang masih kental dan di pertahankan. Selain itu warga Desa Serungkuk yang ramah tamah membuat saya merasa memiliki keluarga baru di tanah orang. Kebudayaan yang ada di Desa Serungkuk wajib di pertahankan generasi ke generasi. Selain melestarikan keaslian budaya Desa Serungkuk sebagai salah satu budaya daerah khas Indonesia khususnya Lampung Barat, kebudayaan ini dapat menjadi salah satu potensi daya tarik bagi para wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam mengenai budaya masyarakat Lampung.

Demikinalah tulisan mengenai Desa Serungkuk, Kecamatan Belalau [Lampung Barat] dan Fakta Yang Harus Kamu Baca!, adapun judul asli dalam tulisan ini adalah “Ceritera Dari Serungkuk” yang ditulis oleh Dini Aji Pangestuti. Semoga dapat menambah wawasan dan juga pengetahuan. Trimakasih, jangan lupa baca juga tulisan lainnya;
  1. Kecamatan Sekampung [Lampung Timur] dan 22 Fakta yang Harus Kamu Baca!
  2. Desa Hargomulyo, Kec. Sekampung [Lampung Timur], dan 18 Fakta yang Harus Kamu Baca!
  3. Kecamatan Banjar Margo [Tulang Bawang], dan 6 Fakta yang Harus Kamu Baca!
  4. 5 Fakta Desa Sukamaju Banjar Margo, Kab. Tulang Bawang yang Harus Kamu Ketahui!

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Desa Serungkuk, Kecamatan Belalau [Lampung Barat] dan Fakta Yang Harus Kamu Baca!"

  1. Terimakasih sudah mengenalkan "pekon" kelahiran ku..

    BalasHapus